Berdirinya Sekolah Tafsir adalah jawaban dari menjamurnya tren sekolah tahfiz pada beberapa dekade terakhir, yang belakangan mendapatkan banyak kritik. Banyak sekolah melakukan rebranding “tahfiz” dengan tujuan menaikkan biaya pendidikan, karena dalam banyak kasus, memasukkan program tahfiz terbukti secara ekonomi dapat meningkatkan popularitas sekolah.
Akibatnya, menghafal sering kali menjadi tujuan utama (primer), sementara pemahaman (tafaqquh/tadabbur) menjadi tujuan sekunder. Hal ini diperparah dengan munculnya ustaz-ustaz muda yang hafal al-quran, tetapi sering salah dalam memaknai dalil al-quran.
Kurikulum Sekolah Tafsir mengikuti manhaj Al-Azhar Mesir yang dikombinasikan dengan kurikulum nasional. Fokus utamanya adalah pembekalan pondasi dasar dalam memahami al-quran dan sunnah. Sekolah Tafsir juga memberikan fasilitas bimbingan untuk siswa/siswi yang ingin melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi di Timur Tengah.